HDDAP Jadi Motor Transformasi Pertanian Lahan Kering di Sumenep
- Yudie -
- 16 Apr, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Pemerintah Kabupaten Sumenep terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong kemajuan sektor pertanian melalui Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Program ini diproyeksikan menjadi penggerak utama transformasi pertanian berkelanjutan, khususnya pada wilayah dengan karakteristik lahan kering.
Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam
Hasyim, menegaskan bahwa HDDAP memiliki posisi penting dalam mengembangkan
sektor hortikultura yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan
taraf hidup petani. Hal itu disampaikannya saat Rapat Koordinasi HDDAP di
Kantor Bupati, Kamis (16/04/2026).
Menurutnya, program ini tidak
hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mengusung pendekatan
menyeluruh. Mulai dari penguatan kapasitas sumber daya petani, pembenahan
kelembagaan, penerapan teknologi tepat guna, hingga pengembangan rantai nilai
komoditas hortikultura.
Ia berharap, implementasi HDDAP
mampu menghadirkan inovasi pertanian yang berdampak nyata, terutama dalam menghasilkan
produk hortikultura yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di pasar.
Kabupaten Sumenep sendiri menjadi
salah satu dari 13 daerah di Indonesia yang memperoleh program tersebut. Dalam
pelaksanaannya, HDDAP memprioritaskan tiga komoditas unggulan, yakni pisang,
bawang merah, dan cabai.
Pengembangan komoditas tersebut
tersebar di lima kecamatan. Kecamatan Batuputih difokuskan pada komoditas
pisang, sementara Ambunten dan Rubaru menjadi sentra pengembangan cabai. Adapun
Guluk-Guluk dan Pasongsongan diarahkan untuk pengembangan bawang merah.
Secara rinci, untuk komoditas
pisang telah terbentuk dua klaster di Batuputih dengan total luasan lahan
mencapai 32,53 hektare. Sementara itu, bawang merah dikembangkan melalui empat
klaster di Guluk-Guluk seluas 49,77 hektare dan tujuh klaster di Pasongsongan
dengan luasan 53,94 hektare.
Di sisi lain, komoditas cabai
rawit menunjukkan perkembangan cukup signifikan. Di Ambunten terbentuk dua
klaster dengan luas lahan 62,87 hektare, sedangkan di Rubaru terdapat 16 klaster
yang mencakup area seluas 112,28 hektare.
Lebih lanjut, Wabup menekankan
pentingnya perubahan pola pikir petani. Ia mendorong agar para petani mulai
beralih dari metode tradisional menuju sistem pertanian modern yang lebih
produktif serta berorientasi pada kebutuhan pasar.
Keberhasilan program ini,
lanjutnya, tidak semata diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga dari
kemampuan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan,
serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Olehrena itu, sinergi antar
pihak menjadi kunci utama dalam menyukseskan HDDAP. Kolaborasi yang kuat
diharapkan mampu memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar sesuai
dengan kebutuhan di lapangan.
Ia juga menegaskan bahwa petani
harus menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan
keterlibatan aktif petani, pembangunan sektor pertanian di Sumenep diyakini
akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Program ini harus menjadi ruang
kolaborasi yang nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat,” pungkasnya. (yud)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


